Surat Kuasa

Surat kuasa, kamu pastinya sudah sering kan dengarnya? Tapi sudah tahu belum pengertian serta bagaimana cara membuatnya dengan tepat dan diakui keabsahannya?

Pengertian Surat Kuasa

Pengertiannya tersirat dalam Undang-undang Hukum Perdata atau KUHPer pasal 1792 yang mengatakan bahwa pemberian kuasa adalah persetujuan yang berisi pemberian kuasa pada orang lain sebagai penerima kuasa buat melakukan sesuatu atas nama pemberi kuasa. Hal tersebut bisa saja berisi informasi pemberian wewenang mewakili pemberi hak untuk melakukan suatu perbuatan atas namanya.

Menurut Pasal 1793 KUHPer, kuasa bisa diberikan dan diterima dalam bentuk akta umum, surat di bawah tangan, sepucuk surat, atau bahkan secara lisan. Selain itu dengan berdasar pada Pasal 1814 KUHPer, pelimpahan kuasa juga merupakan perjanjian hukum sepihak, dengan kata lain pemberi kuasa bisa kapan saja mencabut kembali tanpa meminta persetujuan penerima kuasa.

Jadi walau hanya ditandatangani pemberi wewenang, surat kuasa tetap dianggap sah karena tidak ada ketentuan hukum yang mengatakan sebaliknya. Dan juga bisa juga dilakukan secara diam-diam dan disimpulkan dari pelaksanaan kuasa itu oleh penerima kuasa sesuai Pasal 1793 ayat 2 KUHPer.

Akan tetapi dalam prakteknya, sebagian hakim di lingkungan pengadilan bahwa penerima kuasa juga mesti menandatangani surat kuasa tersebut. Soalnya surat kuasa itu perjanjian antara kedua belah pihak, jadi baik pemberi kuasa maupun penerima kuasa haruslah menandatanganinya.

Karena surat kuasa sangatlah penting dan melibatkan pelimpahan kekuasaan, maka kamu mesti hati-hati dalam membuatnya ya. Dan jangan lupa mencantumkan unsur-unsur yang krusial mesti tercantum di dalamnya.

Unsur-unusr Yang Harus Tercantum Dalam Pembuatannya

Lalu apa saja unsur-unsur yang mesti tercantum di dalamnya? Berikut beberapa diantaranya.

  • Kalau kamu membuatnya untuk mewakili perusahaan atau instansi tertentu maka mesti pakai kepala atau kop ya.
  • Unsur kedua adalah judul serta nomor surat kalau untuk perusahaan dan instansi
  • Cantumkan juga kalimat pembuka, yang umumnya berupa keterangan waktu.
  • Yang terpenting adalah cantumkan data personal identitas pemberi serta penerima kuasa ya seperti nama, identitas, pekerjaan, dan alamat.

Khusus Untuk SK dinas, kamu juga mesti cantumkan NIP/NRP, golongan atau pangkat serta jabatan atau pekerjaan.

  • Unsur lainnya adalah tanggal dan juga waktu pelimpahan kuasa atau otorisasi.
  • Selanjutnya jenis pemberian kuasa, entah sifatnya khusus atau umum.
  • Dan yang juga tidak kalah penting adalah perihal apa yang dikuasakan, bentuk serta batasan kekuasaan yang dilimpahkan.
  • Biar sah secara hukum jangan lupa cantumkan klausul hak retensi dan pemberian hak substitusi.
  • Di bagian akhir adalah penutup, dan dilanjutkan dengan tanda tangan semua pihak yang terlibat beserta cap resmi instansi atau perusahaan sebagai simbol kekuatan hukum.

Jenis-jenis Surat Kuasa

Mungkin pertanyaan selanjutnya yang terlintas adalah berapa banyak sih jenis surat kuasa itu? Jawabannya adalah ada 3 jenis, yaitu:

Perseorangan

SK yang dibuat seseorang buat orang lain agar orang tersebut melakukan sesuatu yang bersifat pribadi atas nama pemberi kuasa. Misalnya SK mengambil ijazah, gaji pensiunan, dan sebagainya.

Kedinasan

SK yang dibuat perusahaan atau instansi tertentu, atau bisa juga seorang pimpinan atau pejabat yang memberikan kuasa kepada bawahannya agar melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan instansi atau perusahaan terkait. Misalnya SK hadir di rapat mewakili pemberi wewenang, SK mengurus dokumen. Biasanya ada kaitannya dengan tugas jabatan atau pekerjaan tertentu.

Istimewa

SK khusus yang diberikan pemberi wewnang kepada penerima kuasa yang berhubungan dengan masalah hukum, misalnya SK untuk pengacara agar bisa mewakili perusahaan atau instansi untuk mendampingi dalam proses hukum atau menyelesaikan masalah hukum.

Cara Membuat Surat Kuasa

Nah, sudah tahu kan berbagai unsur serta jenis SK? Bagaimana dengan cara membuat surat kuasa yang tepat agar sah secara hukum? Sudah tahu caranya belum?

Surat Kuasa Perseorangan

  • Pertama-tama di bagian teratas kamu mesti tuliskan judul, entah itu “Surat Kuasa” atau “Surat Kuasa Perseorangan”
  • Lalu cantumkan juga data personal pemberi kuasa, antara lain nama, alamat, no KTP, nomor ponsel, pekerjaan, dan sebagainya. Ingat semakin lengkap datanya maka semakin baik ya, tapi jangan juga terlalu berlebihan. Berikan juga keterangan di bawahnya yang menerangkan bahwa menerangkan bahwa data di atas milik pemberi kuasa.
  • Tentu saja data personal penerima kuasa juga mesti kamu cantumkan ya. Sebelum data personal, tuliskan dulu kalimat yang menerangkan bahwa data di bawah milik penerima kuasa.
  • Yang terpenting adalah paragraf yang menjelaskan perihal kuasa apa yang dilimpahkan, entah itu bentuknya, masalah apa, dan juga batasan kekuasaan yang diberikan agar bisa membatasi ruang gerak serta wewenang penerima kuasa.
  • Tanggal dan tanda tangan pemberi dan penerima kuasa.
  • Ingat ya, sekali surat kuasa dibuat, berarti mengandung unsur hukum yang mengikat. Agar memperkuat di mata hukum, jangan lupa membubuhkan materai ya.

Surat Kuasa Kedinasan

  • Surat ini mesti punya Kepala Surat dari perusahaan atau instansi dan organisasi pemberi wewenang.
  • Diberi judul “Surat Kuasa Kedinasan” atau sekedar “Surat Kuasa”.
  • Tuliskan juga nomor SK yang bisa dijadikan bukti pengarsipan.
  • Cantumkan data personal pemberi kuasa, seperti nama perusahaan atau instansi atau organisasi beserta alamat, dan juga nama orang pemberi kuasa beserta NIK dan jabatannya.
  • Cantumkan data personal penerima kuasa yang isinya sama dengan data personal pemberi kuasa.
  • Selanjutnya adalah bagian terpenting yaitu tujuan pelimpahan kuasa, jangan lupa jelaskan secara terperinci wewenang penerima kuasa beserta batasannya.
  • Tuliskan tempat dan waktu SK itu dibuat.
  • Dan tentu saja masa berlaku SK yang dibuat, biar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.
  • Tanda tangan pemberi dan penerima kuasa, dan tuliskan nama serta NIK atau jabatan keduanya ya.
  • Bagian terakhir adalah membubuhkan materai serta cap perusahaan atau instansi atau organisasi sebagai bukti persetujuan dari perusahaan terkait.

Surat Kuasa Istimewa

Cara membuatnya sama seperti kuasa perseorangan, hanya saja di SK ini kamu wajib membubuhkan materai buat dijadikan bukti administrasi hukum yang sah. Beberapa kantor pengacara meminta klien memakai kepala surat atau kop surat dari perusahaan yang menjadi klien mereka.

Contoh Surat Kuasa

Bagaimana? Sudah dapat gambaran cara membuat SK yang tepat? Masih bingung? Jangan kuatir, di bawah ini tercantum beberapa contoh surat kuasa, entah itu SK perseorangan, kedinasan maupun SK istimewa.

Contoh SK Kedinasan Melakukan Pendaftaran Domain

Contoh SK Kedinasan Melakukan Pendaftaran Domain
Contoh Surat Kuasa Kedinasan Melakukan Pendaftaran Domain

Contoh SK Kedinasan Mengikuti Lelang

Contoh Surat Kuasa Kedinasan Mengikuti Lelang
Contoh Surat Kuasa Kedinasan Mengikuti Lelang

Contoh SK Perorangan Pengambilan BPKB

Contoh SK Perorangan Pengambilan BPKB
Contoh Surat Kuasa Perorangan Pengambilan BPKB

SK Istimewa Persidangan Pengadilan Agama

Surat Kuasa Istimewa Persidangan Pengadilan Agama
Surat Kuasa Istimewa Persidangan Pengadilan Agama

Nah, sudah lihat kan beberapa contoh berbagai jenis SK? Jadi perhatikan dengan baik unsur-unsur apa saja yang mesti tercantum, serta bagaimana cara membuat SK yang tepat di atas ya. Kalau masih bingung, lihat saja beberapa contoh di atas. Ingat ya jangan sampai ada yang terlewatkan. Kamu tidak mau kan surat kuasanya dianggap tidak sah secara hukum hanya karena kelalaian atau lupa mencantumkan hal yang penting?

Penikmat senja yang hanya ingin berbagi ilmu pengetahuan

Leave a Comment