Id Ego Superego

Id Ego Superego Menurut Sigmund Freud, Id, ego dan superego merupakan suatu struktur psikis manusia yang terpisah satu sama lain namun saling terkait, membutuhkan dan saling berinteraksi. Antara id, ego dan superego dalam diri manusia harus seimbang karena jika tidak maka akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia tersebut.

Teori ini merupakan teori yang paling banyak dipercaya dalam rumus dasar di dunia psikologi. Lantas siapa sebenarnya Sigmund Freud yang merumuskan tentang id, ego dan superego dalam diri manusia?

Sigmund Freud adalah seorang pemikir terkenal dalam dunia psikologi. Beliau lahir tanggal 6 Mei 1856 di Pribor, Ceko dan meninggal pada tanggal 23 September 1939 di Britania Raya. Selengkapnya tentang id, ego dan superego yang dirumuskan oleh Sigmund Freud bisa Anda simak dalam ulasan berikut ini!

Pengertian Id Ego Superego

Id, adalah kebutuhan alamiah manusia

Id dalam konteks psikologi menurut Sigmund Freud merupakan suatu aspek yang mendasari personalitas dari diri seseorang. Id dapat direpresentasikan sebagai kebutuhan dasar alamiah. Sebagai contoh diantaranya kebutuhan untuk makan, minum, pakaian dan sebagainya.

Id bekerja dengan prinsip kesenangan yang dianut. Dengan adanya id dalam diri seseorang, maka orang tersebut memiliki hasrat untuk mencari kepuasan secara instan terhadap keinginan dan kebutuhan hidupnya. Jika hasrat untuk mencari kepuasan dan kesenangan sudah terpenuhi, maka orang yang sudah mampu memenuhi Id maka akan merasa senang dan tenang.

Akan tetapi sebaliknya. Jika Id tidak terpenuhi dalam diri seseorang, maka orang yang bersangkutan berkemungkinan tegang, cemas dan marah karena apa yang diinginkan tidak tercapai.

Contoh kasusnya sebagai berikut :

Ketika acara makan malam sedang berlangsung, Irene haus, ia ingin minum sesegera mungkin namun gelasnya kosong. Agar ia bisa memenuhi keinginannya, Irene meminta pelayan resto di acara makan malam tersebut untuk menuangkan air pada gelasnya sesegera mungkin. Akan tetapi pelayan tidak menggubrisnya karena masih melayani pelanggan yang lain, sehingga Irene izin terhadap Pak Budi untuk meminum air di gelas Pak Budi terlebih dahulu. Beruntungnya, Pak Budi mengizinkan.
Contoh kasus diatas merupakan contoh Id yang bisa mengarah ke hal baik karena Irene memiliki attitude yang baik untuk mendapatkan apa yang dia mau. Berbeda dengan contoh berikut ini yang mengarah pada ketidakseimbangan Id.

Contoh kasusnya sebagai berikut :
Andre terjebak macet ketika pulang dari kantor. Dirinya sudah lelah dan ingin mobilnya bergerak sesegera mungkin. Ia marah pada situasi tersebut kemudian membunyikan klakson berulang kali yang menimbulkan orang – orang di sekitarnya geram.

Ego, adalah cara manusia menghadapi realita

Setiap manusia pasti memiliki ego. Karena adanya ego, seseorang berusaha memenuhi apa yang menjadi keinginan id dengan cara yang seharusnya dapat diterima secara sosial. Jika ego tidak bisa terpenuhi, kepuasan harus ditunda demi membantu menghilangkan rasa tegang yang dirasakan karena ego manusia sangat perlu untuk ditekan demi keseimbangan.

Ego mengerti bahwa orang lain juga memiliki keinginan dan kebutuhan yang sama. Karena itu menjadi egois dalam jangka panjang bukan hal yang baik dan menekan ego menjadi suatu aspek yang penting karena ego yang dimiliki manusia merupakan sifat alamiah yang harus dikontrol.

Contoh kasus ego yang bisa dikontrol sebagai berikut :

Irene haus ketika makan malam berlangsung. Akan tetapi ia tahu bahwa pelayan sedang melayani tamu yang lain. Sementara di bangku sebelahnya, terdapat minuman Pak Budi yang sudah siap. Ia ingin meminta izin untuk mengambil minuman pak Budi namun Irene menahan egonya dan menunggu sampai pelayan datang melayaninya.

Ketika pulang dari kantor, Andre terjebak macet. Ia ingin sekali motornya bergerak. Ia ingin membunyikan klakson sebagai tanda bahwa ia sedang geram. Akan tetapi ia tidak melakukannya karena sadar bahwa apa yang menjadi egonya tersebut bisa menjadi tindakan yang kurang menyenangkan untuk orang lain yang ada di sekitarnya.

Superego, aspek moral yang dapat diterima secara sosial

Superego merupakan aspek moral dari sebuah kepribadian manusia yang bisa diterima di lingkungan sosial. Superego didapatkan dari pola pengasuhan orang tua, nilai dan juga norma yang berkembang di lingkungan masyarakat. Ketika pola pengasuhan baik dan manusia berada di lingkungan yang mampu memberikan nilai dan norma yang baik pula, maka superego yang dihasilkan outputnya juga positif.

Walaupun superego dan ego dapat mencapai keputusan yang sama tentang sesuatu yang sedang dihadapi, akan tetapi alasan superego dalam mengambil keputusan lebih didasarkan pada nilai moral yang berkembang dan pengajaran yang didapatkan sedari kecil. Sementara pada ego, keputusan ego didasarkan atas apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Sebagai contoh, Andre ingin mencuri kamera yang dimiliki temannya. Ia sangat ingin memiliki kamera yang seperti temannya punya. Ia punya kesempatan untuk mencuri kamera tersebut. Akan tetapi ia memilih tidak mencuri karena apa yang diajarkan orang tuanya selama ini mencuri itu perbuatan dosa dan jika ketahuan konsekuensinya adalah penjara. Karena itu, Andre berusaha menekan superegonya dan tidak mencuri meski punya kesempatan.

Keterkaitan Antara Id, Ego, Superego

Antara Id, ego dan superego, ketiganya saling terkait satu sama lain dalam pola pengambilan keputusan manusia. Antara Id, ego dan superego berkontribusi secara bersama dalam menciptakan pola perilaku manusia.

Id menjadi aspek yang memberikan tuntutan kebutuhan secara alamiah dalam diri manusia. Sementara ego membatasi dengan realita dan superego menambahkan nilai moral pada setiap tindakan yang diambil.

Jika kita ibaratkan dalam struktur bongkahan es, ego dan superego merupakan elemen dari struktur psikologi yang kita sadari layaknya bongkahan es yang hanya bisa dilihat di bagian permukaan. Sementara jauh dibawah permukaan laut, terdapat suatu bongkahan es yang tidak terlihat yaitu id yang merupakan insting alamiah manusia yang muncul tanpa disadari.

Ketiganya harus seimbang. Ketika ego tidak mampu menyeimbangkan antara tuntutan id dengan realita dan nilai moral yang berkembang, maka kecemasan dan ansietas akan terjadi dan outputnya sangat tidak baik dan berdampak negatif.

Itulah sedikit ulasan tentang id, ego, superego yang bisa kita sampaikan. Pastikan Anda berusaha untuk menyeimbangkan ketiganya agar bisa hidup dalam tatanan yang baik dan menghasilkan output yang positif atas setiap tindakan Anda.

Penikmat senja yang hanya ingin berbagi ilmu pengetahuan

Leave a Comment